Melvil Dewey, Si Bapak Perpustakaan

Kata Kunperpus.jpgci : Perpustakaan, Sejarah Perpustakaan, Penomoran Buku, Klasifikasi Buku, Melvil Dewey.

Ketika kita pergi ke perpustakaan besar, kemudian mencari buku yang diinginkan di katalog komputer. Ternyata setelah dimasukan judul buku dan pengarangnya ternyata kode bukunya adalah 150.195.FRO.c. Apakah kita mengerti apa maksud dari nomor-nomor dan huruf-huruf tersebut. Dengan membawa nomor panggil buku tersebut, kita kembali pada petugas perpustakaan, yang kemudian membantu hingga menemukan buku yang dibutuhkan.

Sesungguhnya nomor-nomor tersebut adalah nomor klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan dalam menyusun koleksi buku yang ada agar buku-buku yang sejenis dapat terkumpul berdekatan, misalnya berdasarkan bidang ilmunya.

Selain itu, sistem pengklasifikasian tersebut akan memudahkan dalam pencarian atau pun pengembalian buku. Ada beberapa macam sistem pengklasifikasian buku yang digunakan di berbagai perpustakaan. Namun, sistem yang paling banyak digunakan oleh perpustakaan-perpustakaan adalah sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC). DDC digunakan oleh perpustakaan di lebih dari 130 negara. Hingga saat ini, DDC telah digunakan lebih dari satu abad. Hal ini tentu tidak terlepas dari sistem/cara kerja DDC yang dipandang paling memadai dalam mengakomodasi perkembangan dunia perpustakaan dan perkembangan ilmu pengetahuan secara umum. Sistem pengklasifikasian buku DDC ditemukan oleh Melvil Dewey, seorang pustakawan berkebangsaan Amerika Serikat, yang hidup pada paruh kedua abad ke-19 hingga awal abad 20. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan sosok Melvil Dewey, sang penemu sistem DDC, proses hingga ditemukannya sistem DDC, dan sekilas tentang cara kerja sistem DDC.

Melvil Dewey lahir pada 1851 di Adams Center, sebuah kota kecil yang masih menjadi bagian New York. Orang-tuanya memberi nama Melville Louis Kossuth Dewey. Nama Louis Kossuth diambil dari nama Lajos Kossuth, seorang pejuang revolusi Hungaria yang pada masa itu sangat terkenal setelah usahanya pada 1848.

Sejak masih kanak-kanak, Melvil Dewey telah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap buku. Ada anekdot yang menceritakan bahwa dia menyelamatkan banyak buku di perpustakaan pada saat sekolahnya terbakar pada 1868. Ketika itu, dia terlalu banyak menghirup asap sehingga dia menderita batuk kronis yang tidak kunjung sembuh. Oleh dokter yang merawatnya, dia diberitahu bahwa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Sejak itu, dia menjadi sangat terobsesi untuk melakukan efisiensi, dilatarbelakangi oleh perasaan bahwa dia tidak memiliki cukup banyak waktu. Selain sistem DDC, Dewey juga menciptakaan sistem ejaan yang disederhanakan, dan sistem stenografi. Temuan-temuannya tersebut mungkin tidak terlepas dari peristiwa kebakaran tersebut.

Sebelum Dewey menemukan DDC, tidak ada sistem yang seragam yang dipergunakan oleh perpustakaan-perpustakaan untuk mengklasifikasikan koleksi buku-bukunya. Masing-masing perpustakaan memiliki dan mengembangkan sistemnya sendiri-sendiri. Bahkan ada perpustakaan yang mengelompokkan bukubuku berdasarkan ukurannya, tidak peduli temanya. Penomoran buku pun dilakukan berdasarkan nomor rak di mana buku disimpan. Misalnya, buku-buku yang disimpan di rak nomor 100C akan diberi nomor 100C. Jadi, nomor buku mengacu pada nomor rak. Sistem penomoran semacam ini disebut sistem “fixed location.” Sistem ini menimbulkan kesulitan yang tidak kecil. Masalahnya adalah ketika ada penambahan koleksi buku perpustakaan yang sampai menyebabkan buku-buku yang sudah ada harus digeser ke rak yang lain, maka nomor buku-buku tersebut pun harus diubah, menyesuaikan dengan nomor raknya yang baru. Perubahan nomor buku pun akan berdampak pada harus diubahnya kartu katalog buku-buku tersebut, karena nomor buku yang tercantum dalam katalog pun harus diubah.

Keadaan seperti itu mendorong Dewey untuk menemukan suatu sistem pengklasifikasian buku yang baru. Sesungguhnya Dewey tidak menemukan sistem yang sama sekali baru. Sebelum Dewey menemukan sistemnya, sudah ada beberapa sistem pengklasifikasian buku. Misalnya, Charles A. Cutter membuat sistem klasifikasi berdasarkan topik, dan Nathaniel Shurtleff melakukan penomoran menggunakan sistem desimal. Inovasi yang dilakukan oleh Dewey adalah menggabungkan sistem pengklasifikasian berdasarkan topik dan penomoran dengan sistem desimal. Namun, nomor tidak mengacu pada rak, melainkan pada bidang ilmu.

Inovasi penting dari DDC adalah penomoran DDC tidak secara langsung merujuk pada lokasi buku. Nomor DDC hanya memberitahu letak relatif suatu buku di antara buku-buku yang lain. Untuk menemukan sebuah buku, dibutuhkan informasi tambahan, misalnya denah rak yang menginformasikan di mana buku-buku dengan nomor-nomor tertentu ditaruh. Hal ini berbeda dengan sistem “fixed location”, di mana nomor buku sama dengan nomor rak tempat buku tersebut disimpan. Berkat inovasi dari DDC ini, kita tidak perlu lagi mengalami masalah yang dihadapi bila menggunakan sistem “fixed location”. Bila perpustakaan menambah buku yang menyebabkan beberapa buku harus dipindah ke rak yang lain, maka denah lokasi saja yang perlu diubah, tidak perlu keseluruhan katalog.

Satu kelebihan lain dari sistem DDC adalah memudahkan untuk ditambahkannya subjek/tema-tema baru. Pada saat pertama kali diterbitkan pada 1876, manual DDC hanya terdiri dari 44 halaman. Sedangkan dalam Edisi 21 yang diterbitkan pada 1996, manual DDC mencapai tebal lebih dari 4000 halaman. DDC memungkinkan penambahan subjek baru karena DDC menggunakan sistem desimal. Dewey mulai dengan membagi jenis-jenis pengetahuan ke dalam kategori-kategori dasar yang kemudian diberi nomor-nomor utama (main class). Selanjutnya, mudah untuk membagi kategori-kategori dasar tadi menjadi bidang-bidang yang lebih mendetail, yang ditandai oleh nomor-nomor di sisi kanan titik desimal. Dengan sistem seperti ini, DDC dapat mengakomodasi perkembangan pengetahuan sejak masa Dewey hingga saat ini.

CARA KERJA SISTEM DDC
Dewey membagi berbagai disiplin pengetahuan yang ada ke dalam sepuluh kelas utama (main class), dengan satu “Generalities”. Selanjutnya, kelas-kelas utama tersebut dibagi lagi ke dalam sepuluh divisi, dan setiap divisi dibagi lagi ke dalam sepuluh section. Ke-sepuluh kelas utama tersebut adalah:
000 Generalities
100 Philosophy, psychology
200 Religion
300 Social Science (incl. economics).
400 Language
500 Natural Science.
600 Technology (incl. medicine, management).
700 Art (incl. architecture, paintings, photography).
800 Literature
900 History, geography, biography.
Kelas utama 000 digunakan untuk karya-karya yang tidak terbatas pada satu disiplin ilmu saja, misalnya ensiklopedia. Kelas ini juga digunakan untuk bidang yang berhubungan dengan pengetahuan dan informasi, misalnya ilmu komputer, ilmu perpustakaan. Angka pertama pada nomor-nomor tersebut menunjukkan main class.
Masing-masing main class terdiri dari 10 divisi, juga menggunakan nomor 0 – 9. Angka yang menunjukkan divisi adalah angka kedua. Misalnya, 600 digunakan untuk buku-buku yang membahas tentang teknologi/ilmu terapan secara umum, 610 untuk ilmu kedokteran, 620 untuk ilmu teknik, 630 untuk pertanian.
Masing-masing divisi dibagi lagi menjadi 10 section, juga menggunakan nomor 0 – 9. Angka ketiga dalam nomor DDC menunjukkan section. Misal, 610 – 6 – digunakan untuk karya umum di bidang kedokteran, 611 untuk anatomi manusia, 612 untuk fisiologi manusia, 613 untuk bidang promosi kesehatan.
Selanjutnya, setelah tiga nomor utama tersebut, angka desimal dapat digunakan sejauh diperlukan. Misalnya, 611.1 untuk buku yang membahas tentang organ-organ kardiovaskular, 611.2 untuk buku yang membahas tentang organ-organ
pernafasan.

Referensi :
Perpustakaan Universitas Maranatha
Dewey, Melvil, 1996, Dewey Decimal Classification and Relative Index.
Wiegand, Wayne A., “The Amherst Method”: The Origins of the Dewey Decimal
Classification Scheme, dalam Libraries & Culture Vol. 33, No. 2, Spring 1998.

About these ads

14 comments on “Melvil Dewey, Si Bapak Perpustakaan

  1. mmm, jadi tau tentang perpus dan penomoran buku lebih banyak…walaupun jarang ke perpus, karena udah gak ngampus lagi, so online library terkadang lebih cepat didapat di internet…

    mm kira2 apa teknik dewey ini digunakan pula pada aplikasi online library untuk mengidentikkan ID setiap buku or cuma pake primary key biasa ya???…

  2. Mungkin Dewey ini dulu blom kepikiran untuk penemoran e-library (perpustakaan online), tapi kayanya bisa dipake, kan sama aja klo menurut saya mah. Soalnya e-lib baru beberapa tahun ke belakang baru muncul.

  3. eh sistem kearsipan juga penomoronnya spt itu, cuma beda nama kategorinya aja (pemerintahan, keuangan dsb-nya)

    just wondering, DDC di implementasikan pertama kali di bidang mana yak, di kepustakaan apa kearsipan ?

    btw, kalo ISBN itu gmn yak ?, ada hubungannya dgn kepustkaan juga

  4. # To adit :
    International Standard Book Number, atau ISBN (Angka Buku Standar Internasional), indentikasi unik untuk buku-buku yang digunakan secara komersial. Itu pengertian ISBN, kayanya ga berhubungan dengan mengkategorikan buku berdasarkan kategori tertentu.

  5. Tolong bantu saya donk, gimana caranya bikin kode penomoran buku perpustakaan dengan sistem dewey, ditunggu!

  6. untuk ida..

    untuk memberi nomor buku berdasarkan sistem ddc kita harus menganalisa terlebih dulu jenis konsep dokumen dan jenis subjek dokumen atas buku tersebut..

    yah, intinya kita harus memutuskan tema/pokok isi buku itu, lalu tinggal mencari kodenya di buku DDC..

  7. saya mendapatkan tugas untuk mengklasifikasikan buku-buku di kantor tapi saya tidak punya basic untuk itu. tolong bantu saya, langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan.

  8. # To ida:
    Di jawab sama burik :D

    # To burik:
    Teng kyu tuk jawabannya

    # To share:
    Anda bisa menggunakan metode di atas, tetapi kalau susah, sekarang udah banyak buku panduan pengklasifikasian buku perpustakaan. Mungkin karena ilmu pengetahuan dan cabangnya terus berkembang, maka akan banyak kategori-kategori baru.

  9. pak, saya sedang bingung mangklasifikasikan buku-buku mandarin. pasalnya dibuku klasifikasi dewey yang saya punya tidak ada buku-buku praktis. lebih banyak teoritis. contohnya seperti buku yang berisi mainan-mainan, saya tidak menemukan klasifikasi yang tepat untuk buku tersebut. harap saya dibantu.

    terima kasih

    yuli (surabaya)

  10. bagaimana cara penomoran buku yang sama persis, di SD kan banyak dapat kiriman buku yang isinya sama, jika nomor DCC sama gimana kalau dipinjam kan bingunggg, makasih infonnya

    Bisa ditambahkan nomor urut dibelakangnya. Misalnya xx.xxx.xxx.001, xx.xxx.xxx.002, dst

    Supono

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s